Sunday, November 30, 2025

Informasi Layanan Kami

Specified Skill Worker (SSW) /Tokutei ginou

Specified Skilled Worker (SSW), yang dalam bahasa Jepang disebut Tokutei Ginou (特定技能), adalah jenis visa kerja baru yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang pada April 2019. Program ini dirancang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di Jepang akibat populasi yang menua dan penurunan angka kelahiran. Visa ini memungkinkan pekerja asing bekerja di bidang-bidang tertentu yang membutuhkan keterampilan spesifik, tanpa memerlukan gelar sarjana atau pengalaman kerja panjang seperti visa kerja konvensional lainnya.

Berbeda dengan visa sebelumnya (seperti Engineer/Specialist in Humanities), SSW lebih mudah diakses karena fokus pada ujian keterampilan dan kemampuan bahasa Jepang, bukan latar belakang pendidikan. Ini membuka peluang bagi pekerja asing, termasuk dari Indonesia, untuk bekerja di Jepang hingga 5 tahun (untuk tipe 1) atau lebih lama (untuk tipe 2).

Kelas Migran Vokasi (KMV) Alumni dan Ekskul di SMK/SMA

Kelas Migran Vokasi (KMV) adalah program pelatihan vokasi khusus yang dirancang untuk mempersiapkan siswa dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi pekerja migran yang kompeten, terampil, dan terlindungi secara hukum. Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Fokus utamanya adalah membekali peserta dengan keterampilan kerja internasional, terutama untuk pasar tenaga kerja di Jepang, seperti program Specified Skilled Worker (SSW) yang telah kita bahas sebelumnya.

KMV bertujuan menekan angka pengangguran di kalangan lulusan SMA/SMK (yang mencapai 5-7% di Indonesia) dengan membuka akses kerja legal di luar negeri. Lampung menjadi provinsi pertama (pilot project nasional) yang meluncurkannya secara luas pada Juli 2025, dan kini mulai diterapkan di sekolah-sekolah negeri di sana. Program ini bersifat ekstrakurikuler, sehingga tidak mengganggu kurikulum utama sekolah.

Tutor (Sensei) JLPT N3

JLPT N3 adalah level menengah dalam Japanese Language Proficiency Test (JLPT), yang menguji kemampuan bahasa Jepang dasar hingga menengah, termasuk kosakata (sekitar 3.700 kata), kanji (650 karakter), tata bahasa (sekitar 180 pola), membaca, dan mendengar. “Sensei” berarti guru atau tutor dalam bahasa Jepang, jadi tutor JLPT N3 adalah pengajar yang spesialis membantu siswa mempersiapkan ujian ini. Mereka biasanya native speaker atau lulusan JLPT N1/N2, dengan metode yang fokus pada latihan soal, koreksi kesalahan, dan tips ujian.

Di Indonesia, permintaan tutor JLPT N3 tinggi karena terkait program seperti SSW (Specified Skilled Worker) dan KMV (Kelas Migran Vokasi), di mana level N4/N3 sering jadi syarat minimal.

Engineering / Gijinkoku

Dalam kursus bahasa Jepang yang terkait dengan program Engineering/Specialist in Humanities/International Services (Gijutsu/Jinbun Chishiki/Kokusai Gyomu) atau yang sering disebut Gijinkoku, pembelajaran bahasa tidak hanya fokus pada komunikasi sehari-hari, tetapi juga pada kosa kata teknis, istilah profesional, dan keterampilan komunikasi spesifik yang relevan dengan bidang teknik, humaniora, atau layanan internasional. Kursus ini dirancang untuk mempersiapkan peserta, termasuk warga Indonesia, memenuhi syarat visa Gijinkoku, yang mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang (idealnya JLPT N2 atau N1) untuk mendukung pekerjaan di sektor seperti IT, teknik mesin, atau manajemen proyek.

Berbeda dengan kursus JLPT N3 untuk SSW (Specified Skilled Worker) yang lebih umum dan dasar, kursus untuk Gijinkoku menargetkan kemampuan bahasa tingkat menengah hingga lanjutan, dengan fokus pada kebutuhan profesional. Kursus ini sering terintegrasi dalam program seperti Kelas Migran Vokasi (KMV) untuk alumni SMK/SMA atau ditawarkan oleh lembaga khusus seperti JagoJepang, Lister, atau NEXS Academy.

Internship /Magang mahasiswa aktif

Internship atau magang untuk mahasiswa aktif adalah program kerja sementara yang dirancang bagi mahasiswa yang masih terdaftar di perguruan tinggi (biasanya S1) untuk mendapatkan pengalaman profesional di perusahaan, termasuk di Jepang. Dalam konteks Jepang, magang ini sering disebut インターンシップ (intānshippu) dan bisa menjadi langkah awal menuju visa kerja seperti Specified Skilled Worker (SSW) atau Engineer/Specialist in Humanities/International Services (Gijinkoku), terutama untuk bidang teknik (engineering). Program ini memungkinkan mahasiswa aktif memperoleh keterampilan praktis, wawasan budaya kerja Jepang, dan kredit pengalaman yang diakui untuk persyaratan visa di masa depan.

Magang mahasiswa aktif di Jepang biasanya berlangsung 1-12 bulan (umumnya 2-6 bulan) dan sering difasilitasi oleh kerja sama universitas, organisasi seperti AIESEC, atau program pemerintah seperti JENESYS dan Vulcanus in Japan. Di Indonesia, program ini relevan bagi mahasiswa yang terlibat dalam Kelas Migran Vokasi (KMV) atau menargetkan visa Gijinkoku, karena pengalaman magang dihitung sebagai bagian dari syarat pengalaman kerja (misalnya, 3-5 tahun untuk visa Gijinkoku).

Matching Job

Matching Job atau Job Matching adalah proses pencocokan pekerjaan yang dilakukan secara sistematis untuk menghubungkan pencari kerja (seperti pekerja asing, alumni magang, atau lulusan kursus vokasi) dengan lowongan yang sesuai berdasarkan keterampilan, pengalaman, pendidikan, dan preferensi. Dalam konteks Jepang, ini sering merujuk pada layanan yang disediakan oleh agen penempatan kerja, platform online, atau pemerintah untuk memastikan pekerja migran (seperti yang menargetkan visa SSW, Gijinkoku, atau internship) mendapatkan posisi yang tepat, menghindari eksploitasi, dan memenuhi syarat visa.

Proses ini penting karena pasar kerja Jepang sangat kompetitif dan spesifik, terutama untuk bidang engineering atau vokasi. Di Indonesia, matching job sering difasilitasi oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) atau BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) melalui program seperti KMV, untuk memastikan pekerja terlindungi. Pada 2025, matching job semakin digital, dengan AI yang membantu analisis CV dan skill gap.

Japanese School / Sekolah bahasa di Jepang

Japanese School atau sekolah bahasa di Jepang (dalam bahasa Jepang disebut 日本語学校, nihongo gakkou) adalah lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan bahasa Jepang kepada pelajar asing, termasuk warga Indonesia, yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa mereka untuk berbagai tujuan, seperti studi lanjutan, kerja (termasuk visa SSW atau Gijinkoku), atau adaptasi budaya. Sekolah ini biasanya menawarkan kursus intensif dengan durasi 3 bulan hingga 2 tahun, menggunakan visa pelajar (ryuugaku visa), dan menjadi langkah awal bagi banyak pekerja migran atau pelajar yang ingin masuk ke universitas/senmon gakko (sekolah vokasi) di Jepang.

Sekolah bahasa ini relevan dalam konteks Kelas Migran Vokasi (KMV), magang mahasiswa aktif, atau persiapan visa Gijinkoku, karena membantu mencapai level bahasa JLPT N2/N1 yang sering disyaratkan untuk pekerjaan profesional seperti di bidang engineering. Pada 2025, lebih dari 700 sekolah bahasa terakreditasi di Jepang (terutama di Tokyo, Osaka, dan Fukuoka) menerima pelajar asing, dengan fokus pada bahasa, budaya kerja, dan persiapan ujian.

Kursus reguler sesuai kebutuhan (online / offline)

Kursus reguler sesuai kebutuhan merujuk pada program belajar bahasa Jepang yang fleksibel, dirancang untuk memenuhi tujuan spesifik peserta, seperti persiapan ujian JLPT N3/N2 (untuk SSW atau Gijinkoku), magang, kerja di Jepang, atau studi di sekolah bahasa Jepang. Kursus ini tersedia dalam format online (via Zoom, Google Meet, atau platform LMS) dan offline (di lembaga bahasa atau kelas fisik), dengan jadwal dan materi disesuaikan berdasarkan kebutuhan peserta, seperti fokus pada engineering untuk visa Gijinkoku, keterampilan vokasi untuk SSW, atau komunikasi dasar untuk magang mahasiswa aktif.

Kursus ini cocok untuk berbagai kalangan, termasuk siswa SMK/SMA dalam program Kelas Migran Vokasi (KMV), mahasiswa aktif yang menargetkan magang, atau profesional yang membidik visa Gijinkoku. Di Indonesia, kursus reguler sering diintegrasikan dengan pelatihan kerja migran, dengan penekanan pada bahasa teknis dan budaya kerja Jepang.